KEHADIRAN LEAK

Posted: February 25, 2011 in Uncategorized

Janganlah Sesumbar Pada Leak Bali

Terlihat Beberapa orang yang menantang historical mystery Bali yaitu Leak . Marilah dari sekarang melalui peristiwa ini kita belajar menghargai Esensi dan Persepsi orang lain agar kita selalu merasa aman dan tidak mempunyai permasalahan. Suksma



By: Agus Sukma

 

Info By: Agus Sukma

Laut Selatan – Yogyakarta
Cerita tentang Nyi Roro Kidul ini sangat terkenal. Bukan hanya dikalangan penduduk Yogyakarta dan Surakarta, melainkan di seluruh Pulau Jawa. Baik di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Di daerah Yogyakarta kisah Nyi Roro Kidul selalu dihubungkan dengan kisah para Raja Mataram. Sedangkan di Jawa Timur khususnya di Malang Selatan tepatnya di Pantai Ngliyep, Nyi Roro Kidul dipanggil dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul. Di Pantai Ngliyep juga diadakan upacara Labuhan yaitu persembahan para pemuja Nyi Roro Kidul yang menyakini bahwa kekayaan yang mereka dapatkan adalah atas bantuan Nyi Roro Kidul dan anak buahnya.

Konon, Nyi Roro Kidul adalah seorang ratu yang cantik bagai bidadari, kecantikannya tak pernah pudar di sepanjang zaman. Di dasar Laut Selatan, yakni lautan yang dulu disebut Samudra Hindia – sebelah selatan pulau Jawa, ia bertahta pada sebuah kerajaan makhluk halus yang sangat besar dan indah.

Siapakah Ratu Kidul itu? Konon, menurut yang empunya cerita, pada mulanya adalah seorang wanita, yang berparas elok, Kadita namanya. Karena kecantikannya, ia sering disebut Dewi Srengenge, yang artinya Matahari Jelita. Kadita adalah putri Raja Munding Wangi. Walaupun Kadita sangat elok wajahnya, Raja tetap berduka karena tidak mempunyai putra mahkota yang dapat disiapkan. Baru setelah Raja memperistrikan Dewi Mutiara lahir seorang anak lelaki. Akan tetapi, begitu mendapatkan perhatian lebih, Dewi Mutiara mulai mengajukan tuntutan-tuntutan, antara lain, memastikan anaknya lelaki akan menggantikan tahta dan Dewi Kadita harus diusir dari istana. Permintaan pertama diluluskan, tetapi untuk mengusir Kadita, Raja Munding Wangi tidak bersedia.

“Ini keterlaluan,” sabdanya. “Aku tidak bersedia meluluskan permintaanmu yang keji itu,” sambungnya. Mendengar jawaban demikian, Dewi Mutiara malahan tersenyum sangat manis, sehingga kemarahan Raja, perlahan-lahan hilang. Tetapi, dalam hati istri kedua itu dendam membara.

Hari esoknya, pagi-pagi sekali, Mutiara pengutus inang mengasuh memanggil seorang tukang sihir, si Jahil namanya. Kepadanya diperintahkan, agar kepada Dewi Kadita dikirimkan guna-guna.

“Bikin tubuhnya berkudis dan berkurap,” perintahnya. “Kalau berhasil, besar hadiah untuk kamu!” sambungnya. Si Jahil menyanggupinya. Malam harinya, tatkala Kadita sedang lelap, masuklah angin semilir ke dalam kamarnya. Angin itu berbau busuk, mirip bau bangkai. Tatkala Kadita terbangun, ia menjerit. Seluruh tubuhnya penuh dengan kudis, bernanah dan sangat berbau tidak enak.

Tatkala Raja Munding Wangi mendengar berita ini pada pagi harinya, sangat sedihlah hatinya. Dalam hati tahu bahwa yang diderita Kadita bukan penyakit biasa, tetapi guna-guna. Raja juga sudah menduga, sangat mungkin Mutiara yang merencanakannya. Hanya saja. Bagaimana membuktikannya. Dalam keadaan pening, Raja harus segera memutuskan.

Hendak diapakan Kadita. Atas desakan patih, putri yang semula sangat cantik itu mesti dibuang jauh agar tidak menjadikan aib.

Maka berangkatlah Kadita seorang diri, bagaikan pengemis yang diusir dari rumah orang kaya. Hatinya remuk redam; air matanya berlinangan. Namun ia tetap percaya, bahwa Sang Maha Pencipta tidak akan membiarkan mahluk ciptaanNya dianiaya sesamanya. Campur tanganNya pasti akan tiba. Untuk itu, seperti sudah diajarkan neneknya almarhum, bahwa ia tidak boleh mendendam dan membenci orang yang membencinya.

Siang dan malam ia berjalan, dan sudah tujuh hari tujuh malam waktu ditempuhnya, hingga akhirnya ia tiba di pantai Laut Selatan. Kemudian berdiri memandang luasnya lautan, ia bagaikan mendengar suara memanggil agar ia menceburkan diri ke dalam laut. Tatkala ia mengikuti panggilan itu, begitu tersentuh air, tubuhnya pulih kembali. Jadilah ia wanita cantik seperti sediakala. Tak hanya itu, ia segera menguasai seluruh lautan dan isinya dan mendirikan kerajaan yang megah, kokoh, indah dan berwibawa. Dialah kini yang disebut Ratu Laut Selatan.

Cerita tentang Nyi Roro Kidul ini banyak versinya. Ada versi Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta.

Konon Nyi Roro Kidul itu tak lain adalah seorang jin yang mempunyai kekuatan dahsyat. Hingga kini masih ada saja orang yang mencari kekayaan dengan jalan pintas yaitu dengan menyembah Nyi Roro Kidul. Mereka dapat kekayaan berlimpah tetapi harus mengorbankan keluarga dan bahkan akan mati sebelum waktunya, jiwa raga mereka akan dijadikan budak bagi kejayaan Keraton Laut Selatan.

Cerita ini dapat digolongkan sebagai mitos, sebab mengaruhnya sangat mendalam, mendasr dan jauh bagi alam pikiran tradisional di Yogyakarta.

Makna Rerajahan Bali

Posted: February 25, 2011 in Uncategorized

Tentang Rerajahan

Semua adil dalam cinta ‘yang mengatakan bahwa dipahamisempurna oleh orang Bali. Ketika cinta dari seorang pria atauwanita tampaknya tidak mungkin untuk mencapai, sekarang saatnya untuk sihir untuk bergabung dengan permainan. Sihir cintadi Bali memiliki berbagai bentuk. Range dari mantra untuk jimat,dari pesona ramuan, yang menghasilkan berbagai efek kepada korban.

Jimat

Ada banyak jenis jimat yang digunakan untuk mendapatkan cintadari seorang pria atau wanita, yang paling kuat dari semua adalahArjuna koin dan koin bulan. Koin Arjuna yang digunakan olehmanusia memiliki citra pahlawan romantis Arjuna dari epikMahabharata, sedangkan yang digunakan oleh perempuan adalahkoin bulan. Bulan-koin memiliki gambar bulan baru di atasnya. Koinini diyakini telah dibuat oleh para dewa dan bukan oleh manusia,mereka ditemukan tergeletak di sekitar candi di malam hari jikakeinginan para dewa untuk menyajikan satu dengan koin sihir.  Info By: Agus Sukma

Info By: I Kadek Bgs. Sukma Wibawa

Foto2 pengiring dan anggota:

Megambel

Ratu Ayu

Nedunan

Didirikan
Since Happen Action Supported uniformity harsh and erratic flow.
Lokasi
Tentang
Art of the Cottage Pekandelan Bongli
Keterangan
Training of personnel in that cling to the teachings of Dharma prevailing in teaching Hinduism. Located in Pondok Pekandelan Bongli Village, sub Penebel, the city of Tabanan, Bali Province.
Informasi Umum
If you believe anything can happen as you wish!
Misi
Creating confidence in every soul boy!
Penghargaan
Tradition Award Ajeg Bali.
Situs Web http://www.facebook.com/pages/Art-of-the-Cottage-Pekandelan-Bongli/147478738645021?sk=wall

http://pekandelanbongliinfo.blogspot.com/

Leak di Langit Karang Asem

Posted: February 25, 2011 in Uncategorized

Info By: Agus Sukma

MALAM menjelang di Desa Padang Aji, Selat Karang Asem. Sekitar pukul 22.00 wita, seusai sejumlah tarian rakyat, keluarlah tarian Walunateng Dirah pertanda dimulainya pergelaran drama Calon Arang yang dimainkan perguruan Sandhi Murti.
Perlahan, suasana terasa mencekam di desa terpencil di pegunungan itu. Arena jaba pura desa yang sedang menyelenggarakan upacara piodalan itu dipadati lebih dari 500 penonton, tapi suasana hening. Ketegangan terus menanjak. Apalagi setelah adegan peperangan antara Patih Madri dan para murid Ratu Dirah.
Lima tokoh r angda lalu muncul di tengah-tengah arena sambil mengucapkan mantra-mantra pengleakan. Tampil pula tokoh desa yang desanya terkena wabah grubug mengundang para leak. Dengan nada humor, dia menantang para leak di wilayah itu agar muncul dan bertarung.” Ayo, aku siap dimakan leak,” katanya dalam bahasa Bali.

Adegan berikutnya adalah munculnya dua usungan membawa dua bangke matahyang seolah adalah kroban grubug. Peran sebagai bangke matah (mayat) inilah yang sebenarnya paling ditakutkan orang karena sangat mengundang risiko. Pemainnya bisa benar-benar mati karena menjadi sasaran tembak serangan ilmu leak. Upacara penguburan pun dimulai dengan memandikan jenazah.
Saat itulah banyak penonton yang melihat bola api berseliweran di udara. Di tengah-tengah upacara penguburan, penglingsir Puri Padang Aji memperingatkan penonton agar tidak ikut mendampingi mayat itu ke kuburan (setra) yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer. Upacara selesai, mayat itu pun diusung yang diikuti ratusan anggota Sandhi Murti dari belakang.

Kedua mayat itu kemudian diletakkan di atas gundukan tanah kuburan. Upacara selanjutnya dimulai. Pada saat inilah kembali penonton heboh karena melihat api, ada pula yang melihat kain putih membentang. Tidak sampai 15 menit, kedua mayat tadi benar-benar hidup kembali.
Pinisepuh Perguruan Sandhi Murti Indonesia, Drs. I Gusti Ngurah Harta, menyebut bola api yang muncul itu merupakan salah satu wujud leak yang hadir meramaikan pertunjukan. Hanya, leak-leak tadi pengecut tidak berani sampai datang ke arena pertunjukan untuk menunjukkan kesaktiannya.
Bagi Sandhi Murti, pertunjukan Calonarang merupakan bagian dari olah kreativitas mereka. Sekaligus untuk menghibur masyarakat. Tapi mereka punya satu syarat, pergelaran haruslah di tempat-tempat yang masih dipandang angker dan belum terganggu oleh hiruk-pikuk dan sorot lampu.
Drama Calonarang sendiri erat kaitannya dengan ilmu pengleakan karena cerita itu membeberkan bagaimana ilmu leak digunakan pada zaman Kediri. Drama ini biasanya dipergelarkan dalam upacara piodalan (ulang tahun berdasarkan hitungan kalender Bali) Pura tingkat madya yang biasanya 10 tahun sekali sebagai kelengkapan upacara.
Sejak tahun 1980-an, Ngurah Harta secara terbuka menyatakan, dia memang menekuni ilmu pengleakan. Ilmu leak, kata dia, merupakan salah satu kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. “Sayang sekali kalau hilang, karena nenek moyang kita telah menciptakannya,” ucapnya.
Cikal bakal ilmu ini, menurut dia, adalah ajaran Tantri yang di Bali berkembang pada zaman Mahendradatta (ibu Erlangga). Jadi, jauh sebelum terciptanya kisah mengenai Janda Dirah pada zaman Kerajaan Kediri masa Erlangga itu. Ajaran ini adalah sebuah sekte yang menyembah Durga.
Dan pertunjukan malam itu memang terasa mencekam. Sekaligus menunjukkan di tengah Bali yang makin berubah, tetap saja ada sisi magis Bali yang bertahan. “Istri saya ketika melihat bola api di udara sampai ketakutan,” ujar Komang Yanes, salah seorang warga Denpasar yang malam itu di Desa Padang Aji, Karang Asem, ikut menonton bersama istrinya.

Pura Gaduh Kebo Iwa

Posted: February 25, 2011 in Uncategorized

Info By: Agus Sukma  discourse of (PHDI)


Pura Gaduh Kebo Iwa

KESAKTIAN PATIH KEBO IWA

SIAPA yang tidak kenal Patih Kebo Iwa. Dialah mahapatih paling sakti di zaman kerajaan dulu. Berkat kesaktian yang dimilikinya membuat Mahapatih Majapahit, Gajah Mada pusing tujuh keliling. Lantas apa hubungan Pura Gaduh Kebo Iwa dengan Mahapatih Bali, Gaduh Kebo Iwa?

Pura Gaduh Kebo Iwa juga sering disebut Pura Gaduh, terletak disebelah timur Pasar Desa Adat Belahbatuh. Perjalanan menuju Pura megah ini tidak sulit, karena letaknya sangat strategis dan ada di jantung keramaian Kota Kecamatan Belahbatuh, Gianyar.

Dari Denpasar menuju pura ini, jika lalulintas lancar waktu yang dihabiskan hanya 30 menit. Pura Kebo Iwa posisinya ada di sebelah Selatan Bale Wantilan Blahbatuh. Begitu menginjak jalan aspal yang cukup bagus, Anda akan melihat betapa kokohnya Pura Gaduh Kebo Iwa, kondisi ini tidak hanya terlihat dari luar pura, di dalam pura kita juga melihat pemandangan yang sama.

Berbagai pelinggih yang megah akan Anda saksikan di pura ini yang seakan melukiskan betapa luhurnya karya seni dari leluhur kita yang telah mewariskan sebuah mementum bangunan yang sangat agung.Areal pura cukup luas, bisa menampung ledakan umat yang mau pedek tangkil ke pura. Pura Gaduh Kebo Iwa ini adalah kompleks dari berbagai pura yang ada di sebelah barat. Bagaimana sejarah berdirinya pura ini. Menurut Jro Mangku yang ngayah di pura ini, pura yang ada sekarang ini merupakan karya agung Patih Gaduh Kebo Iwa.

LANTAS SIAPA SEBENARNYA KEBO IWA ITU?



Dalam berbagai sumber lontar, disebutkan Gaduh Kebo Iwa adalah sebuah dongeng, tapi ada juga yang menyebutkan sebuah sejarah pada jaman dulu di Bali. Gaduh Kebo Iwa kalau di Bali sangat terkenal dengan kesaktiannya. Karena saktinya dia bergelar mahapatih yang tidak terkalahkan dan patih yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan yang ingin menguasai wilayah kerajaan yang dipegangnya. Tapi ada yang mengatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang raksasa, bertubuh kuat, gagah perkasaa dan sangat sakti. Konon di Bali banyak sekali peninggalan sejarah yang merupakan hasil karya atau setidak-tidaknya ada hubungannya dengan kehidupan Patih Gaduh Kebo Iwa.

Menurut legenda atau dongeng Gaduh Kebo Iwa bertempat tinggal di Desa Blahbatuh tepatnya di sebelah Barat Daya Gianyar sekarang. Disebut-sebut sebagai peninggalan Kebo Iwa adalah Candi Padas Gunung Kawi, Kolam Tirta Empul yang ada di Tampak Siring dimana Kebo Iwa diceritakan mandi dengan menggosok punggungnya dengan batu yang datang sendiri dari Bukit Buluh yang ada di Klungkung. Sebuah jalan yang naik terjal yang ada di Trunyan juga disinggung ada missi perjalanan dari Kebo Iwa dan oleh penduduk dikatakan dengan undag (prigi) Kebo Iwa.

Singkat cerita setiap ada tempat atau tanah, batu berlobang sering dihubungkan dengan tapak kaki Kebo Iwa. Lebih hebat lagi Kebo Iwa hanya bermodalkan dengan kayu Kelor bisa menggotong atau memikul tanah. Jatuhan tanah yang dipikulnya dengan kayu kelor tersebut membuat sebuah pulau-pulau kecil seperti yang dikaitkan dengan adanya Pulau Nusa Dua sekarang.

Yang patut menjadi catatan tersendiri adalah Bali mencapai kejayaan itu justru ketika mahapatih Kebo Iwa masih berkuasa. Pasalnya semenjak Bali dikuasai Kebo Iwa, majapahit tidak bisa menjajah Bali. Untuk membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada membuat taktik jitu dengan menugaskan Kebo Iwa membuat sumur, setelah itu ditimbun dengan batu dicampur kapur. Maka Kebo Iwa pun wafat. *patra dari berbagai sumber.

PERMATA MERAH JATUH DENGAN GAIB



BERBAGAI keunikan yang ada pada sebuah pura ternyata apa yang kita mohonkan bisa jadi kita dapatkan. Begitu juga yang ada di Pura Kebo Iwa. Krama yang tahu pura ini akan mengadakan perjalanan sucinya untuk mendekatkan diri dengan Ida Sanghyang Widhi. Kalau kita percaya di Pura Gaduh/Kebo Iwa Ida sasuhunan sangat pemurah. Dan banyak para pemedek yang membuktikan mendapatkan sesuatu. Jangankan pada hari-hari piodalan, ternyata pada hari-hari biasa tidak jarang kita saksikan krama yang pedek tangkil. Krama yang tangkil datang dari berbagai daerah, sehingga pura ini bukanlah milik dari krama Blahbatuh. Seperti dikatakan oleh Jro Mangku Ketut Pada ketika dihubungi MBA mengatakan “Pura ini memang sering dikunjungi krama Bali dan tiang tidak tahu dari mana asal pedek tangkil kesini”, ujarnya polos. Dengan keyakinan umat untuk mendalami agamanya yang semakin meningkat memang diakui sekarang berbagai pura sempat menjadi sasaran umat. Sehingga termasuk Pura Kebo Iwa ada saja yang datang untuk meminta restu sesuai profesinya. Ada cerita sangat menarik yang mengaku rombongan dari Denpasar. Di saat khusuknya menghaturkan sembah subhakti kehadapan Ida Sasuhunan ternyata salah satu rombongan tiba-tiba dikagetkan sebuah paica berupa batu permata merah.

Menurut rombongan tersebut tujuannya nangkil ke Pura Kebo Iwa tidak pernah terbesit akan mendapatkan suatu yang berupa paica. Batu merah itu tiba-tiba muncul di atas canang sarinya yang hendak dihaturkannya keluhur, kontan saja pemedek yang lainnya ikut kaget. Dibarengi setengah becanda bahwa ada seorang yang kehilangan permata merah hati. Dengan didapatkannya batu permata itu, maka persembahyangan menjadi lebih khusuk lagi karena diyakini Ida Sasuhunan adalah maha pemurah. Bagi krama setempat yang tidak tahu menahu tentang paica yang sering didapatkan pamedek. Karena itu anugerah, maka tidak ada salahnya seorang nangkil kesana nunas damuh”, urai Jro Mangku Ketut Pada. Sangat menarik sekali apa yang kita saksikan di Utama Mandala, karena kalaupun hiruk-pikuknya deru kendaraan bermotor menuju jalur timur, namun Pura Kebo Iwa sangat hening dan suasananya sangat mendukung untuk persembahyangan. Suasana sepi dirasakan pamedek karena tembok penyengker dari pura itu sangat megah dan tinggi. Arsitektur Pura ini mengagumkan dan bisa dikatakan betapa tingginya nilai karya yang membuat pura itu dan kini masih sangat tegar berdiri kokoh melambangkan budaya Bali yang sangat agung. *patra

TERPIKAT BAJANG JEGEG
MENURUT sejarah yang disebut diberbagai lontar dikatakan, Gaduh Kebo Iwa adalah sosok patih yang maha sakti. Gaduh Kebo Iwa pepatih dari Raja Gajahwaktra yang memerintah di Bedahulu (sekarang Bedahulu) sekitar tahun 1324M-1343M. Sebelumnya di Bedahulu memerintah seorang raja yag bernama Mesula-mesuli, setelah meninggal kerajaan jatuh pada Gajahwaktra alias Sri Tapolung yang beristana di Bedahulu.

Diceritakan Sri Tapolung ini adalah seorang raja yang sangat sakti, tapi dibarengi dengan sifat-sifatnya yag sangat sombong. Kesombongannya itu sampai berani melawan perintah para dewa-dewa, sifat-sifatnya sesuai dengan sifat Mayadenawa, yang kemudian dapat dikalahkan oleh Bhatara Indra (Mahadewa). Dalam pemerintahan itu Gajahwaktra dibantu bebrapa pepatih yaitu: di Tengkulak dibantu oleh Ki Pasunggrigis sebagai perdana menteri (sebelah barat Bedahulu). Ki Gaduh Kebo Iwa mendapat tugas di Blahbatuh, pembantu lainnya adalah Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kalagemet, menteri Girikmana (Ularan) bercokol di Bali utara, Ki Tunjung Tutus di Tianyar, Tunjung Biru di Tenganan, Ki Buan di Batur, Ki Tambiak di Jimbaran, Ki Kopang di Seraya dan Ki Kalungsingkal di Taro. Dengan penjelasan beberapa sumber tadi maka dapat dikatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang patih yang bertempat tinggal di Blahbatuh dan merupakan patih yang sangat disegani Raja Gajahwaktra.

Kisah perjalanan Ki Gaduh Kebo Iwa memang agak aneh, pasalnya Gaduh Kebo Iwa adalah pengagum bajang jegeg. Sehingga dengan kedatangan Majapahit ke Bali, dengan tipu daya untuk membawa Gaduh Kebo Iwa ke Jawa yang akan dijodohkan dengan seorang gadis cantik yang sudah terkenal dengan nama Putri Jejawi.

Upaya ini adalah bikinan Patih Majapahit supaya dapat mengalahkan Bali dengan cara halus. Tapi setelah gadis cantik tersebut mau dikawinkan, harus dipenuhi permintaan membuat sumur yang dalam. Dengan tidak berfikir panjang lebar Gaduh Kebo Iwa tidak menolak, dengan kekuatan atau kesaktiannya membuat sumur dan akhirnya setelah kedalamannya cukup. Putri cantik yang bernama Jejawi menyuruh anak buahnya menimbun Gaduh Kebo Iwa. Akhirnya Gaduh Kebo Iwa ditimbun dengan berbagai bebatuan, seperti batu putih dan tanah. Tapi setelah ditimbun dengan bebatuan, ternyata Gaduh Kebo Iwa tidak mati. Keluarlah sabda Gaduh Kebo Iwa dari dalam sumur, bahwa dirinya tidak akan mati sebelum ditimbun dengan ranting dan garam. Setelah ditimbun dengan ranting dan garam barulah Gaduh Kebo Iwa mati. Hanya dengan janji akan dikawinkan dengan gadis cantik Gaduh Kebo Iwa rela meninggalkan Bali yang merupakan andalannya untuk mempertahankan daerah yang dikuasai Gajahwaktra. Tapi karena Gaduh Kebo Iwa kesukaannya adalah gadis cantik dengan mudah Gajahmada menaklukan Bali.

Sebelum Gaduh Kebo Iwa pergi ke Majapahit dengan tipu daya akan dikawinkan dengan gadis cantik, maka sempat meninggalkan sebuah karya berupa pura yang disebut dengan Pura Gaduh Kebo Iwa. Di pura ini ada sebuah arca kepala yang cukup besar, konon patung kepala Gaduh Kebo Iwa sendiri. Dengan ditemukannya patung kepala tersebut sampai sekarang pura itu sebagai peninggalan perjalanan Gaduh Kebo Iwa. *patra dari berbagai sumber.

Jro Mangku Ketut Pada:
PERCAYA DENGAN IDA SASUHUNAN



KETUT Pada, pemangku Pura Kebo Iwa yang ditugaskan untuk melayani umat yang tangkil ke Pura Kebo Iwa. “Sebagai pemangku memang tiang sangat bodoh dalam bidang tattwa agama,” urainya dengan lugu. Tapi Ida Sasuhunan yang melingga disini tahu dirinya bodoh, kebodohannya tidak menjadi halangan ngayah sebagai seorang pemangku. Karena disadari apa yang dilakukan I Ketut Pada ini sebatas mewarisi tugas ini, dan semua itu tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Akibatnya sebagai orang belog, harus mau mengikut garis keturunan ini. Dalam usia yang sudah usur yaitu 70 tahun I Ketut Pada masih bisa memberikan pelayanan kepada umat Hindu yang pedek tangkil walaupun dengan kondisi badan yang agak srayang sruyung. Tujuannya ngayah kata Jro Mangku adalah, “Wantah nunas keselamatan secara sekala-niskala, tidak lebih dari itu,: paparya ketika diajak berdialog MBA. bagi Ketut Pada pada hari Wraspati Umanis, Pahang adalah hari-hari sibuknya melayani umat, pasalnya pada hari itu adalah piodalan Ida Bhatara Pura Gaduh yang mesti dilakukan setiap 210 hari sekali. Disaat itulah selama nyejer empat hari penuh dengan kesibukan bhakti. Tanpa mengenal lelah siap mengantarkan umat melakukan bhaktinya kepada Ida Sasuhunan. Usia tua bagi Ketut Pada yang berpenampilan lugu tidak menjadi halangan dan sudah percaya kepada Ida Sasuhunan yang menuntunnya untuk ngayah disini.

Sebagai manusia matah seharusnya sudah lengser mengingat sudah tidak layak ngayah lagi karena umur sudah memberikan garis yang sudah tua. Tapi karena kehendak niskala, niat itu diurungkan takut nanti ada kualat, tukasnya dengan kalem. Setiap orang yang hidup didunia ini umumnya mempunyai prinsip, demikian juga Jro mangku Ketut Pada mempunyai prinsip hidup yang sangat mulia.

“Didunia ini jangan sekali-kali mempunyai niat nguluk-nguluk, sebab nguluk adalah perbuatan yang tidak baik walaupun itu kelihatannya sangat sepele, tapi hikmah dosa dari nguluk-nguluk itu sangat besar.” saran Jro Mangku Ketut Pada.

“Didunia ini tidak ada yang tidak mustahil, dengan hidup ini usahakan berbuat sesuai norma agama dan norma etika.” katanya menambahkan. Tapi sayangnya hidup seseorang kini banyak yang mempunyai niat nguluk-nguluk, apalagi nguluk orang belog, sebenarnya itu harus dihindari, demi materi banyak yang nguluk-nguluk dengan cara halus demi mencapai tujuannya. Biasanya orang miskin dan orang belog sering menjadi korban uluk-uluk dari orang pintar, katanya mengingatkan. *patra

Info By: Agus Sukma

Umat Hindu di Kota Semarang menyiapkan pawai ogoh-ogoh dan karnaval budaya dengan melibatkan berbagai grup kesenian tradisional setempat pada 27 Februari 2011 untuk menyambut Hari Raya Nyepi.
Ketua Panitia Nyepi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, I Kade Winaya, Rabu (23/2/2011) mengatakan, kegiatan itu mulai sekitar pukul 14.00 WIB dari halaman Balai Kota Semarang di Jalan Pemuda melewati Jalan Pandanaran, dan berakhir di Lapangan Simpanglima.
Beberapa grup kesenian tradisional yang akan memeriahkan kegiatan itu antara lain jatilan, barongsai, musik rebana, dan warak ngedok.
Saat peserta pawai tiba di Lapangan Simpanglima, akan dilanjutkan dengan atraksi berbagai kesenian termasuk pentas tarian Bhinneka Tunggal Ika.
Kegiatan itu, rencananya berakhir sekitar pukul 17.30 WIB. “Ini salah satu sumbangsih umat Hindu di Semarang untuk mewujudkan tujuan perdamaian dari berbagai perbedaan, berbagai kepentingan untuk mewujudkan keselarasan ke atas, ke samping, dan ke bawah,” katanya.
Panitia mendatangkan tiga ogoh-ogoh untuk pawai itu dari Bali yakni Ogoh-Ogoh Celuluk, Butho, dan Pang (gundul).
“Dalam acara tersebut tidak hanya budaya dari Bali tetapi juga ada budaya lokal seperti gunungan dan lintas agama dengan adanya rebana dan barangsai,” katanya.
Pada Minggu (27/2/2011) pagi umat menjalani prosesi Melasti berupa pengambilan air suci dari laut di Pantai Marina Semarang.
Seksi Hubungan Masyarakat Panitia Nyepi PHDI Kota Semarang, Nyoman Romangsi, mengatakan, prosesi Melasti di Pantai Marina juga diikuti umat Hindu berasal dari luar kota itu seperti Salatiga, Kendal, Grobogan, Jepara, Kudus, dan Pati.
“Sejak lima tahun terakhir acara Melasti diikuti dari berbagai pura, tidak hanya dari Kota Semarang tetapi juga dari luar daerah,” katanya.
Puncak Hari Raya Nyepi jatuh pada Sabtu, 5 Maret 2011, seluruh umat Hindu melakukan kontemplasi dan yoga-samadhi di rumah masing-masing mulai pukul 06.00 WIB hingga Minggu pukul 06.00 WIB.

“Puncak kegiatan adalah acara Dharma Shanti atau bagi umat muslim disebut halal bihalal. Acara Dharma Shanti dilaksanakan 13 Maret 2011 di Gedung Gradhika Bhakti Praja Jalan Pahlawan,” katanya.